Tampilkan postingan dengan label IPM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Januari 2016

DOKUMENTASI IPM

Sebuah video berdurasi sembilan menit lima puluh satu detik ini mendokumentasikan sebuah kegiatan akbar yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah SMA Muhammadiyah I Bandar Sribhawono. Sebuah kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu yang menjadi cikal bakal berdirinya organisasi kepanduan di sekolah tersebut.

Video yang dibuat pada Desember 2010 silam ini melukiskan perjuangan yang alot dalam membongkar eksistensi pelajar kreatif di sekolah-sekolah tak populer. Sebuah mahakarya kaum pelajar yang luput dari konsentrasi masyarakat. Sebuah umpatan disuarakan oleh kaum pelajar yang termarjinalkan dalam dunia pendidikan. Mereka terisolir, namun senantiasa mencari dan memanfaatkan setiap celah yang ditemuinya untuk meniupkan suara hatinya.

Penulisan kata-kata dalam video memang terbilang “alay” dan tak berpedoman EYD yang baik dan benar. Beberapa kata ada yang disingkat-singkat, tanda baca yang kurang tepat, sampai penggunaan huruf besar kecil yang terkombinasi tanpa aturan menunjukkan mereka adalah para pelajar normal yang ikut-ikutan “alay” pada masa itu. Namun demikian, di balik ke-alay-an pengantar video tersebut tersimpan luapan emosi yang mendalam.

Para pelajar ini rupanya berupaya untuk mengkritisi dunianya. Dari mulai kebijakan otoritas sekolah yang serba setengah-setengah, longgarnya proses pembelajaran, hingga paradigma masyarakat umum tentang “Quantity is Quality” atau “Kuantitas adalah Kualitas”, semua tersirat dalam satu dokumentasi singkat. Harapannya, khalayak umum dapat menyadari dan mengakui keberadaan mereka.


Tim redaksi Pen Fighters berupaya untuk memuat ulang video ini dengan tujuan supaya aspirasi ini dapat disebar luaskan. Selain itu juga untuk mengajak para loyalis IPM hari ini untuk menengok kembali kegemilangan IPM di masa silam. Semoga bermanfaat.

Jumat, 01 Januari 2016

REGENERASI RISMA TAQWA: Secuil Fakta dibalik Survive-nya Remaja Islam Masjid Taqwa Srimenanti

Disamping fungsinya sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi pusat pendidikan dan pengkaderan. Remaja Islam Masjid merupakan sebuah oragnisasi bina remaja Islam yang bertujuan untuk mendidik dan membina kader-kader muda di lingkungan sekitar masjid. Keberadaan Remaja Islam Masjid (Risma) diharapkan dapat mencetak generasi-generasi pemakmur masjid serta menjadi mata tombak dakwah Islam dari masa ke masa. Hal ini merujuk pada firman Allah dalam Qur’an Surat At-Tawbah ayat 18:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّه، فَعَسَآ أُولَآئِكَ أَنْ يَّكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”

Adalah Masjid Taqwa desa Srimenanti yang berpartisipasi dalam merealisasikan keberadaan Risma di desa Srimenanti. Berafiliasi dengan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Srimenanti, salah satu Masjid terbesar di desa Srimenanti ini mendirikan oraganisasi bina remaja yang dikenal sebagai Risma Taqwa desa Srimenanti. Berdiri sekitar tahun 1970, Risma Taqwa telah banyak melahirkan tokoh-tokoh besar. Diantara tokoh-tokoh besar yang lahir dari Risma Taqwa ialah; Imawan Edi Sutanto yang kini menjadi Kepala SD Muhammadiyah Bandar Sribhawono serta selaku pengurus Wilayah Pemuda Muhammadiyah Lampung, Edi Susilo, S.Pd yang saat ini menjadi kepala SMP Muhammadiyah I Bandar Sribhawono, Ridlo Al-Amin, S.E. yang saat ini menjadi kepala SMA Muhammadiyah I Bandar Sribhawono yang juga termasuk ke dalam jajaran pengurus Wilayah Pemuda Muhammadiyah Lampung dan masih banyak tokoh-tokoh lain dari generasi sebelumnya lahir dari forum Risma Taqwa Srimenanti.

Gerakan bina remaja ini rupanya di kemudian hari mampu menginspirasi banyak kalangan. Pada sekitar tahun 2000, hampir semua masjid-masjid di desa Srimenanti memiliki Rismanya masing-masing. Hal ini dilihat lebih sebagai sebuah bentuk pelebaran sayap daripada sebagai bentuk plurarisasi gerakan. Pandangan ini dikuatkan dengan terbentuknya koalisi “Risma Desa Srimenanti” yang juga pernah diketuai oleh Imawan Edi Sutanto. Menurut catatan penulis, silaturahmi ini terjalin sangat erat hingga Risma Taqwa sampai pada kepemimpinan Arif Rahman Hakim atau setelahnya. Beragam kegiatan digelar bersama di bawah naungan koalisi “Risma Desa Srimenanti” dalam rangka mengenal satu sama lain serta mempererat jalinan silaturahmi antar Risma.

Namun demikian, organisasi Risma sebagai gerakan bina remaja tak luput dari serangan dinamika perkembangan zaman. Longgarnya filter budaya yang terjadi dikalangan remaja menyebabkan mitra-mitra dakwah Risma Taqwa satu per satu mulai tumbang. Kuatnya tendensi psikologi remaja untuk ikut-ikutan budaya asing menjadi faktor utama yang menyebabkan padamnya api semangat bina remaja. Selain itu juga, terdapat kesenjangan antara derasnya arus globalisasi dengan upaya preventif dari pembina Risma yang menjadi mesin penghancur tembok ketahanan prinsip bina remaja yang telah dibangun susah payah selama beberapa dekade silam.

Revolusi Risma Taqwa: sebuah perubahan atau politisasi?

Selain menghempas tembok pertahanan para mitra, arus globalisasi dan westernisasi juga menghantam tubuh Risma Taqwa. Puncaknya adalah pada saat kepemimpinan Ahmad Dahlan dimana Rista mengalami kemacetan siklus regenerasi. Hal ini bukan disebabkan oleh adanya upaya diktatif dalam kepengurusan seperti yang dituduhkan kala itu. Stigma negatif ini bahkan tak pernah terbukti. Faktanya, fenomena ini lebih terlihat sebagai efek dari lunturnya nilai-nilai keislaman dalam gerakan. Virus westernisasi semakin meradang dikala semakin canggihnya tekhnologi informasi dan komunikasi. Ketidaksiapan kaula muda untuk membentengi jati dirinya melahirkan sikap terpukau dan terlena akan gemerlapnya hedonisme dan liberalisme. Tapi apalah daya, image kediktatoran telah terlanjur melekat.

Terlepas siapa yang memulai, isu-isu tak sehat tersebut sempat membuahkan berbagai upaya resolusi. Berbagai langkah perbaikan dari mulai resufle, penertiban administrasi, hingga sistematisasi gerakan telah ditempuh dalam rangka merekonstruksi tembok pertahanan organisasi. Jika dilihat dari sudut pandang yang sempit, segala upaya yang terbilang produktif tersebut tidaklah menciptakan hasil yang signifikan. Namun jika dilihat lebih jauh, langkah-langkah produktif tersebut sejatinya telah menjadi pijakan yang efektif dalam menempuh langkah yang lebih besar.

Langkah-langkah tersebut terus dikembangkan oleh para aktifis Risma Taqwa. Sampailah pada awal 2012, disaat terbentuknya Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bandar Sribhawono yang diketuai oleh Muhammad Arifin yang juga pernah menjadi ketua Rista yang kemudian dilengserkan oleh para tetua di awal kepemimpinannya. Berangkat dari pengalaman ini pula, M Aifin dengan ambisi independensinya memandang bahwa minimnya ruang gerak remaja dalam area dakwah menyebabkan surutnya aktualisasi dakwah remaja. Melalui PC IPM yang ia deklarasikan pada awal Januari 2012, beragam upaya intervensi terhadap Rista pun dilakukan guna memunculkan gerakan dakwah remaja yang independen.

Benar saja, Rista kemudian berafiliasi dengan PC IPM tak lama setelah eksistensinya di permukaan publik. Pada pertengahan 2012 Rista resmi bernaung dibawah PC IPM Bandar Sribhawono. Terdapat titik temu antara urgensi PC IPM untuk menaungi tiga Pimpinan Ranting dengan gejolak ditengah kepengurusan Rista yang menyebabkan IPM dan Rista harus menyatukan kekuatan. Tak sampai di situ, bernaungnya Rista dibawah bendera IPM semakin memuluskan intervensi PC IPM. Mobilitas PC IPM yang lebih produktif kala itu membuat pengaruhnya dalam manajemen organisasi Rista semakin kuat. Hingga pertengahan 2013, upaya sentralisasi yang diintenskan oleh PC IPM membuahkan hasil. Di bawah instruksi PC IPM, Rista akhirnya mampu melaksanakan reorganisasi yang telah sekian lama tersendat. Adalah Eko Pratiknyo sebagai ketua umum Rista menggantikan Ahmad Dahlan.

Dibawah kepemimpinan Eko Pratiknyo, koordinasi Rista dengan PC IPM kian kokoh. Rista seperti menemukan kembali jati dirinya. Selain karena dukungan PC IPM yang intens, besarnya pengaruh sang ketua Risma di kalangan remaja komplek juga menjadi faktor meningkatnya produktifitas gerakan Rista. Revolusi gerakan bina remaja seolah mendapat angin segar. Ambisi independensi gerakan dakwah remaja yang diusung para aktifis tampak semakin nyata. Pasalnya, kerasnya ambisi untuk bergerak secara independen tersebut cukup untuk melemahkan dikte dari para tetua terhadap gerakan dakwah remaja. Hal tersebut dimaknai sebagai sebuah kemenangan besar bagi M Arifin dan antek-anteknya.

Salah Memaknai Revolusi: apakah revolusi yang menyebabkan kemunduran PC IPM?

Ironis, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi dewasa ini. Munculnya PC IPM ke permukaan dengan ambisi independensinya pada awal 2012 silam terkenang hanya sebagai sebuah terapi kejut. Oraganisasi remaja yang dulu meneriakkan perombakan tersebut belakangan kian rapuh. Hanya berjalan selama satu periode saja dan ditambah satu tahun PC IPM berkarya. Hal ini sudah mulai tampak sejak tahun terakhir kepemimpinan M Arifin. Kemudi organisasi yang kemudian dilanjutkan oleh Eko Pratiknyo mewariskan carut marut kepengurusan PC IPM selama dinahkodai M Arifin. Periode awal generasi baru PC IPM seperti menumpahkan limbah produksinya ke tangan penerusnya. Demikian perjuangan PC IPM yang kian hari semakin terancam punah.

Surutnya pergerakan PC IPM ini bertolak belakang dengan eksistensi Rista yang relatif stabil. Namun akar masalahnya mungkin bukan pada kesenjangan tersebut. Secara kronologis, melemahnya PC IPM terjadi sejalan dengan melemahnya komitmen personalia PC IPM pada awal periode. Selain itu, hal tersebut juga dipengaruhi oleh ambisi independensi yang tak dibarengi dengan penguatan idealisme penerusnya. Mentahnya idealisme para penerus gerakan mengakibatkan ketidakmampuan dalam tubuh PC IPM untuk survive. Apabila PC IPM benar-benar tumbang, maka bukan tidak mungkin Rista akan menyusul setelahnya. Sebab, kolaborasi yang aktif antara Rista dan PC IPM sepanjang catatan pena telah menciptakan gerakan melawan arus globalisasi dan westernisasi. Maka dari itu, kiranya tak berlebihan jika mengatakan tumbangnya PC IPM adalah awal dari runtuhnya gerakan dakwah remaja.

Sebagai sebuah resolusi yang ingin disuarakan adalah perlu adanya konstruksi baru yang mapan pada pola pikir penerus gerakan. Implementasinya adalah dengan memposisikan Rista sebagai eksekutor dan PC IPM sebagai otoritas yang mengontrol. Tak ada salahnya mengembalikan kolaborasi yang nyata antara keduanya. Lumpuhnya PC IPM berarti lumpuh pula organisasi-organisasi yang lahir dari rahimnya. Jika itu terjadi, maka Rista pun akan kehilangan bahan garapan bagi gerakan dakwahnya. Melihat realitas tersebut, maka sudah sepantasnya bagi semua pihak untuk menengok sejarah pergerakan serta kembali pada konsep bina remaja.


(Tim Redaksi Pen Fighters)

Senin, 21 Desember 2015

Class Meeting Versi SMA Muhammadiyah I Bandar Sribhawono

Berakhirnya kegiatan pembelajaran selama satu semester yang kemudian dilengkapi dengan Ujian Akhir Semester merupakan prosedur yang tak asing di dunia pendidikan. Selanjutnya, sudah menjadi suatu kepastian bahwa pasca Ujian Akhir Semester (UAS) sekolah dasar dan menengah biasanya menyisakan kekosongan waktu sekolah. Waktu yang lengang ini bagi otoritas sekolah digunakan untuk memproses laporan hasil belajar siswa yang telah dikalkulasi dengan hasil UAS, UTS, tugas-tugas dan lain sebagainya. Sedang di kalangan siswa sendiri, kosongnya jam sekolah pasca UAS biasanya diisi dengan kegiatan-kegiatan tertentu. Sembari menunggu diumumkannya laporan hasil belajar siswa, Class Meeting pun kerap jari pilihan favorit untuk mengisi kekosongan tersebut.

Class Meeting merupakan kegiatan sejenis kompetisi atau perlombaan antar kelas. Tujuannya tak lain hanya sekedar mengisi waktu luang pasca UAS dan tentunya bersenang-senang menjadi prioritas. Dengan Class Meeting, kreativitas siswa dapat terbentuk serta ianya dapat sebagai sarana refresing bagi siswa setelah penatnya masa UAS.

Demikian pula, Class Meeting menjadi pilihan bagi siswa SMA Muhammadiyah I Bandar Sribhawono untuk mengisi senggangnya waktu menjelang pembagian rapor. Sekolah swasta yang merupakan amal usaha Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bandar Sribhawono ini, merefleksikan kegiatan Class Meetingnya dengan mengusung permainan-permainan tradisional sebagai kategori yang dilombakan. SMA yang yang hanya memiliki siswa kurang dari seratus siswa ini rupanya tak miskin mobilitas. Paradigma masyarakat luas yang melihat kualitas atas dasar jumlah, rupanya tak menghentikan siswa SMA Muhammadiyah I Bandar Sribhawono untuk tetap berkreatifitas.

Alhasil, kegiatan Class Meeting berlangsung dari tanggal 14 – 18 Desember 2015 dengan beberapa cabang lomba yang sebagian besar merupakan permainan tradisional. Diantara cabang yang dilombakan ialah sebagai berikut;

Balap karung
Tarik tambang
Egrang
Congklak
Kasti
Gobak sodor
Bentengan
Voly
Futsall
Catur
Gebuk bantal

Mayoritas cabang yang dilombakan merupakan permainan-permainan tradisional yang populer pada era 70-an hingga 90-an. Sebagai sebuah kompetisi, kegiatan tersebut menghasilkan jawara-jawara baru Class Meeting SMA Muhammadiyah I Bandar Sribhawono dengan menobatkan kelas X sebagai juara umum. Menyusul setelahnya, kelas XI keluar sebagai juara ke-2 dan kelas XII sebagai juara ke-3.

(BO, MFA)


Berikut dokumentasi kegiatan Class Meeting SMA Muhammadiyah I Bandar Sribhawono tahun 2015;





Minggu, 15 November 2015

Aduhai Dahsyatnya!




Tidakkah engkau merasakan beratnya fitnah ini?

Tak sadarkah engkau, bahwa fitnah ini sejatinya telah merengsek ke seluruh pelosok bumi ini?

Masihkan engkau belum faham apa itu fitnah?

Bukankah engkau adalah makhluk yang paling sempurna akalnya?

Tidakkah engkau memperhatikan?

Fitnah ini telah mengelilingi jasadmu bak sangkar yang selalu menyertai langkahmu. Ia bak jeruji besi yang di setiap celahnya terhunus mata tombak maha runcing lagi siap merajam qalbu tanpa peringatan. Tak terlewat satu jengkal pun di bumi ini melainkan engkau akan menjumpainya. Kebenaran bagaikan seekor semut hitam di atas batu hitam di tengah pekatnya malam tanpa rembulan.

Lantas kemana lagi engkau akan berlindung kecuali hanya kepada-Nya?

Tapi lihatlah dirimu sekarang! Engkau tak kunjung menyadarinya.

Butakah engkau?

Tulikah engkau?

Sehingganya engkau merasa sedang berada di telaga surga dengan kehidupanmu yang serba hedon. Engkau sibuk mengejar dunia yang kelak hanya akan engkau tinggalkan ketika ajal menjemput. Mautmu tak akan menunggumu berkemas. Mautmu tak akan mengetuk pintu-pintumu.

Mautmu akan bertindak secepat...... TIDAK!! Lebih cepat dari yang engkau bayangkan! Sangat cepat! Tanpa peringatan!

Tidakkah engkau bayangkan, bila itu terjadi dikala engkau sedang larut ke dalam lautan fitnah?

Oh..... saudaraku.....

Andai engkau merasakan ketakutan yang aku rasakan tentang dahsyatnya fitnah ini. Perkataanku bukanlah sekedar perkataan orang yang telah bosan dengan hidupnya. Bukan pula perkataan orang yang merasa kalah dengan kerasnya kompetisi global. Namun, perkataanku adalah perkataan orang yang menyadari sepenuhnya dimana ia berada. Perkataan orang yang menyadari sepenuhnya pada posisi apa ia berada.

Wahai saudaraku.....

Allah tak sedang mempermainkan kita. Ia hanya sedang menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya Zat Yang Maha Kuasa untuk memberikan pertolongan. Masihkah kita bersikeras untuk menjauhi-Nya?


Padahal, tak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya.

Jumat, 27 Februari 2015

Sekularisme: Sebuah Bentuk Ijtihad Atau Penyimpangan?



Secara mendasar, sekularisme merupakan bentuk pemikiran dimana hal duniawi dipisahkan secara total dengan nila-nilai religi. Yang paling mencolok dalam pengamalan sekularisme ini adalah dalam sektor ketatanegaraan atau pemerintahan dimana hukum dan undang-undang yang diterapkan adalah buah pemikiran manusia yang sebatas berbasis pada permasalahan aktual atau rencana jangka panjang ala otak manusia. Sedangkan agama hanya dijadikan sebagai tangan kanan (penasihat), bukan lagi sebagai otak atau sumber pemecahan masalah. Memeluk dan mengamalkan nilai suatu agama ditujukan sebatas formalitas spiritual yang lebih dijadikan sebagai topeng moral.

Dalam Islam sendiri, ajarannya bersumber kepada Qalamullah (Al Qur’an) dan Al Hadits sebagai penjelasnya. Bagi para pemeluknya (muslim) ajaran di dalam dua pusaka umat Islam tersebut dianggap telah mampu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia secara global tak terkecuali aspek politik kenegaraan. Alla SWT telah menunjukkan garis-garis besar tentang pedoman mengelola sebuah negara atau pemerintahan atau kekuasaan yang jika dikaji secara mendalam maka pedoman tersebut dapat dijadikan sebagai Undang-Undang Dasar (UUD).

Pada dasarnya memang tidak dijelaskan mengenai seperti apa bentuk pemerintahan yang bersumber dari hukum Islam tersebut. Namun sekali lagi, hukum Islam tersebut adalah sebagai Undang-Undang Dasar yang menjadi patokan dalam menentukan kebijakan pemerintahan. Artinya, seperti apapun bentuk pemerintahannya maka haruslah sesuai dengan Undang-Undang Dasar Islam tersebut. Manusia (dalam kasus ini, umat Islam) boleh mengembangkan aturan-aturan yang akan diberlakukannya, dengan syarat harus berlandaskan Undang-Undang Dasar Islam tersebut. Perlu dicatat, bahwa umat Islam memiliki kewajiban untuk memperjuangkannya! (Hal ini akan dibahas pada tulisan berikutnya, Insya Allah). Pemberlakuan Undang-Undang Islam ini telah dibuktikan kemujarabannya oleh:

Pertama, Rasulullah SAW. Beliau telah membuktikan kesuksesannya dalam menerapkan hukum Islam secara kaffah di kota Madinah. Beliau adalah seorang tokoh spiritual utusan Allah SWT yang diutus untuk menyebarkan ajaran Islam dan pada saat yang bersamaan, Muhammad SAW tampil sebagai tokoh politik yang andal dengan hukum Islam yang dibawanya. Mengikuti setelah beliau adalah Khalifah Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali).

Jika Rasulullah SAW dan para shabatnya (Khulafa Urasyidin) adalah contoh kesuksesan syariat Islam tempo dulu, maka di era modern pun terdapat bukti nyata kemujaraban hukum Islam. Adalah rezim Taliban di Afganistan dari tahun 1990-an hingga 2000-an  Taliban telah membuktikan bahwa hukum Islam bisa diterapkan di jaman modern. Hal ini sekaligus menjawab asumsi-asumsi yang mengatakan bahwa ‘Hukum Islam sudah kuno!’. Namun, kekejaman dan kedzaliman media Barat yang cenderung tidak netral kerap kali mencoreng nama baiknya hingga rezim Taliban digulingkan oleh AS dan sekutunya pada tahun 2001.

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa sekularisme bukan merupakan bentuk ijtihad, namun sebuah penyimpangan hukum Allah SWT. Hal ini sangat beralasan karena dalam Islam tidak ada ajarannya yang membenarkan perihal pemisahan antara urusan agama dan urusan negara seperti konsep dasar sekularisme. Jika keselamatan adalah suatu keharusan, maka Islam lah jalan satu-satunya menuju keselamatan dunia dan akhirat karena Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin. Wallahu’alam bissawab.

Minggu, 21 September 2014

Free Writing


Krisis Kedisiplinan


Kedisiplinan merupakan merupakan masalah vital yang mempengaruhi kemunduran sekolah kita. Penerapan kedisiplinan amat sangat penting. Seyogyanya perilaku disiplin terlebih dahulu diterapkan oleh pribadi seorang guru yang tentunya harus dibarengi dengan sikap tegas. Hal ini dikarenakan ‘guru’ berarti ‘digugu dan ditiru’. Maka seorang guru yang baik adalah contoh yang baik pula bagi muridnya. Namun sebaliknya, jika modelnya saja memberikan contoh yang salah, maka pengikutnya (murid) pun akan labih salah dan tentunya hal ini akan memberi efek berkelanjutan.

Selanjutnya kedisiplinan harus dibarengi dengan ketegasan. Tegas bukan berarti ‘galak’, tapi tegas juga bisa direalisasikan dengan sikap komitmen. Komitmen terhadap peraturan merupakan wujud ketegasan.

Secara umum, yang menjadi masalah disekolah kita adalah fakta ‘sudah diberi contoh dan pengertian, tapi siswanya tetap tidak disiplin’. Ya, memang seperti itulah karakter siswa SMA Muhammadiyah belakangan ini. Terkesan seenaknya sendiri dan banyak menuntut, namun tak pernah memberi kontribusi apapun untuk sekolahnya. Jadi apakah ini semua kesalahan siswanya? Tentu tidak! Karena disinilah peran guru sebagai ‘mind molder’ atau membentuk cara berpikir siswanya. Seorang guru tidak boleh sampai kehabisan kesabaran dalam menghadapi siswanya. Karena profesi keguruan merupakan ‘panggilan hati’ yang artinya harus dilaksanakan dengan sepenuh hati.

Berbicara soal kedisiplinan yang dibarengi dengan ketegasan, penulis mengutip hasil wawancara terhadap Prayogo Samsul Ibrahim, seorang alumni Pondok Modern Gontor sebagai berikut “Dulu Gontor juga pernah didemo sama santri-santrinya karena terlalu ketat katanya, tapi akhirnya malah semua santrinya yang pada demo itu dikeluarkan. Akhirnya ya harus mulai dari awal lagi, mulai dari nol lagi, orang muridnya habis” ujar pemuda yang saat ini menjadi mahasiswa Universitas Negeri Surabaya tersebut. Dari kutipan tersebut kita bisa ketahui bahwa Pondok modern sekelas Gontor yang bertaraf internasional saja sampai rela kehilangan santri-santrinya dan harus mulai dari nol lagi demi mempertahankan komitmennya terhadap peraturan. Lantas, kenapa kita harus takut?

Tak perlu sedisiplin mereka, cukup menerapkan disiplin yang sewajarnya saja. Toleransi boleh, namun jangan dijadikan alat untuk menutupi kemalasan, jangan dijadikan alasan untuk tidak disiplin. Tertib dan disiplin sungguh sangat perlu, supaya sekolah kita tidak seperti ‘mayat hidup’ antara ada dan tiada.

Maka dari itu, kenali diri kita. Jika kita adalah seorang guru, maka bersikap dan berperilakulah selayaknya guru. Dan jika kita adalah siswa, maka bersikaplah selayaknya seorang siswa, yang hormat dan patuh kepada guru sebagai orang tua kita disekolah, santun dan berperilaku selayaknya MANUSIA. Salam Pen Fighter!

Rabu, 17 September 2014

Activity Record

 
Remaja Islam Masjid (RISMA) At Taqwa, juni 2014 lalu untuk pertama kalinya mengibarkan bendera IPM di pantai Bandar Negeri Lampung Timur. Seperti yang dikutip dari akun group PC IPM Bandar Sribhawono di Facebook (15/9), ketua bidang Advokasi Mustofa menngatakan “Mengulang keberhsilan camping di pantai' Kami Risma ingin kembali mengadakan acara tersebut lagi. Karena di situ kami menemukan arti hidup yg sangat penting, persahabatan, tantangan, mandiri dan msh banyak lgi. Salam Pen' figtre's”. Kegiatan tersebut cukup membuktikan bahwa remaja Muhammadiyah tidak hanya aktif dalam majelis yang terbilang monoton dan sering dianggap kuno, tapi remaja Muhammadiyah juga bisa ikuti trend namun tetap berpegang pada jati dirinya sebagai remaja muslim. Dengan mengikuti trend masa kini yang terbilang agresif, bukan berarti remaja Muhammadiyah terpengaruh kedalamnya, akan tetapi tujuan mengikuti trend adalah ‘amar ma’ruf nahi munkar’ ala remaja Muhammadiyah.

Namun, di balik optimisme tersebut terdapat kekhawatiran bahwasanya mengikuti arus perkembangan jaman yang agresif sangatlah berisiko terutama bagi remaja yang terbilang tanggung. Maka dari itu ketua umum PC IPM Bandar Sribhawono, M Fatkhu Arifin memberi pujian yang diboncengi kritik khas darinya untuk kegiatan tersebut “Nah, itu baru IPM. Kreatif dan yang penting mau beraksi” ia melanjutkan dengan kritik “tapi jelas masih butuh koreksi, sayangnya bhanya camping biasa. Harapannya sih, kayak iklan roko ‘U mild’ itu lo, ‘ngantor gk harus di dalam ruangan’. Harusnya ini diterapkan di kegiatan tersebut, jadi ‘ngaji gk harus di masjid, di mana pun bisa’. Artinya kegiatan yang dibilang camping kemaren itu harusnya malamnya diadakan pengajian seperti biasanya, jadi gak cuman tongkrang-tongkrong dan sekaligus sebagai identitas bahwa ini lo Risma” ujarnya.

Bagaimanapun, kegiatan tersebut adalah sebuah inisiatif yang memang harus realisasikan. Artinya, remaja Muhammadiyah jangan sampai ‘kreatif tapi gak inisiatif’ karena kreatifitas haruslah dibarengi dengan aksi. Salam Pen Fighters